Selasa, 01 Mei 2012

Peradaban Islam di Cina
Latar Belakang Sejarah

Islam sampai ke China melalui dua jalur perdagangan, pertama-tama melalui jalan laut, dan kemudian melalui jalan darat. Komunitas Muslim China telah meningkat terus-menerus bertahun-tahun melalui imigrasi, perpindahan agama dan perkawinan.
Sumber-sumber China kuno melaporkan bahwa ekspedisi Arab datang ke China di tahun kedua pemerintahan kaisar Yung Way dari dinasti Tang; yaitu pada 31 H (651 M) di mana pemerintahan khalifah Usman. Orang-orang muslim China percaya bahwa para anggota delegasi ini, yang berjumlah 15 orang, adalah orang muslim pertama yang memasuki China. Mereka percaya bahwa ekspedisi ini di bawah Saad Ibn Abi Waqqas, salah seorang sahabat nabi. Delegasi datang ke China melalui laut, mendarat di Kanton, kemudian melalui darat pergi ke ibukota Shang-An (sekarang Sian) di mana mereka dismbut oleh kaisar dan diizinkan membangun sebuah masjid. Masjid ini diyakini sebagai masjid pertama di China, yang masih berdiri sampai sekarang. Ada juga sebuah masjid di Kanton, di atas kuburan Saad, ketua ekspedisi itu. namun cerita ini belum diuji dengan sumber-sumber Arab, dan dapat dipastikan bahwa Saad Ibn Abi Waqqas meninggal di Madinah. Ini berarti bahwa ketua ekspedisi itu pasti Saad yang lain.
Tentara muslim mencapai perbatasan China pertama kali melalui darat di masa khalifah Walid dari Bani Umayyah, Al-Hajjaj Ibn Yusuf Al-Tsaqafi, gubernur Irak pada waktu itu mengirim tentara muslim di bawah pimpinan Qutaibah Ibn Muslim Al-Bahili ke perbatasan China. Tentara itu meninggalkan Samarkand (Uzbekistan) pada 93 H (711 M) dan memasuki Kashgar (Singkiang) pada 96 H (714 M). Kaisar China kemudian setuju membayar upeti kepada orang-orang muslim sebagai tanda kesetiaan kepada negara muslim.
Hubungan perdagangan meningkat dengan pesat antara bangsa muslim dan China. Perdagangan dijalankan pertama dengan jalur laut, kemudian ketika Kashgar menjadi bagian dari bangsa muslim, melalui darat. Kebanyakan pedagang adalah muslim, dan umumnya dari Arabia dan Persia. Hubungan antara China dan bangsa muslim di masa dinasti Umayyah dan Abbasiyah terus-menerus bersifat ramah dan hangat, saling tukar-menukar kedutaan dan delegasi. Pada 138 H (755 M) kaisar China meminta pertolongan dari bangsa muslim untuk memadamkan pemberontakan An-Lu-Chan. Khalifah memenuhi dengan mengirim pasukan terdiri dari 4000 orang tentara muslim yang berhasil mengalahkan pemberontak dan menetap di tanah China. Mereka mengawini wanita China, membangun keluarga muslim, sehingga memberikan dukungan demografik yang kuat kepada komunitas muslim pertama di China.
Jumlah pedagang muslim dan Arabia dan Persia yang menetap di Kanton meningkat secara berarti sehingga mereka membentuk perbandingan yang penting dari penduduk kota itu. pada 141 H (758 M), mereka memberontak melawan kaisar karena beban pajak yang berat, yang kemudian dihentikan. Pada 145 H (762 M), muslim sekali lagi membantu kaisar memadamkan pemberontakan lain, Sei-Chu-Bei.
Kanton menjadi pusat penyebaran komunitas muslim kearah Hang-Chu digaris pantai sebelah utara. Mereka membangun masjid dan sekolah di mana mereka pergi. Pada 259 H (872 M) pengembara Arab Ibn Wahb mengunjungi Kanton dan bertemu orang-orang muslim di sana ketika ia bertemu dengan kaisar. Namun tujuh tahun kemudian, malapetaka menimpa orang-orag muslim ketika pemberontak membakar kota dan membunuh lebih dari 100.000 muslim. Dinasti Tang tidak selamat dalam peristiwa ini dan jatuh pada 295 H (907 M).
Selama dinasti Tang, orang-orang muslim hidup makmur dan dihormati di China. Namun meskipun meluas perkawinan campuran, mereka tetap merupakan unsure asing, baik dalam segi bahasa, asal etnik dan bentuk fisik. Namun banyak kaisar memberikan perlakuan istimewa kepada mereka. Pemberian hak istimewa ini meningkat di bawah Dinasti Siung berikutnya. Ada 86 delegasi dari negara muslim ke China antara 31 H (651 M) DAN 604 H (1207 M). Terjadi aliran imigran Muslim secara terus-menerus yang mebangun kota-kota Muslim satelit di dekat pelabuhan-pelabuhan terbesar China. Mereka membangun masjid dan sekolah dan mendirikan lembaga-lembaganya sendiri. Mereka mencalonkan gubernur mereka sendiri yang biasanya diterima oleh Kaisar.
Orang-orang Muslim China membentuk kelas pedagang kaya dengan hubungan-hubungan internasional. Mereka diperlukan untuk perdagangan China dan mendapat penghargaan tinggi. Sepanjang Dinasti Siung pos baru yang diciptakan, yaitu Direktur Jenderal Laut di Kanton selalu dijabat oleh seorang Muslim. Sepanjang periode yang sama, penduduk Muslim meningkat jumlahnya sebagai hasil imigrasi melalui jalur Kashgar, dank arena perpidahan agama penduduk setempat, yang paling mengagumkan adalah perpindahan agama secara missal Suku Hsiung-Nu.
Orang-orang Mongol di bawah Chingis Khan menyerbu China dan menurunkan Dinasti Siung. Kubilay Khan, anak Chingis membangun Dinasti Yuan. Pada waktu itu tentara Mongol menaklukan sebagian besar bagian Asia dari dunia Islam dan menghancurkan kekhalifahan Abbasiyah dan ibukota Muslim, Baghdad. Namun akibat sampingnya adalah Pax Mongolica yang meliputi bagian-bagian dunia Islam dan China dalam satu unit tunggal. Situasi ini mendorong gerakan orang dan ide-ide yang pada gilirannya membantu terjadinya perpindahan agama secara missal ke Islam, terutama di antara para pembesar Mongol. Akhirnya orang-orang Muslim menjadi kelas terkemuka di seluruh negara Mongol termasuk China. Di sekitar periode inilah untuk pertama kali bahasa Persi mengganti bahasa Arab sebagai bahasa komunitas Muslim China. Hampir semua pejabat tinggi tentara, pemerintahan dan administrasi adalah Muslim. Seorang ahli sejarah bangsa Parsi Rashid-Din Fadlullah melaporkan pada jilid pertama Ensiklopedi Sejarah-nya, bahwa di era negara Mongol di bawah Kubilay Khan, China dibagi ke dalam 14 provinsi. Pimpinan masing-masing provinsi adalah Gubernur dan Wakil Gubernur. Delapan gubernur adalah Muslim dan empat wakil gubernur provinsi lain adalah juga Muslim. Di antara negarawan China Muslim yang paling terkenal pada periode itu Gubernur Provinsi Yunnan antara 1278 dan 1279 M. Anaknya Al-Sayyid Bayin menjadi Perdana Menteri Kaisar China antara 1333 dan 1340 M.
Pengembara Maroko Ibn Batutah mengunjungi China selama periode ini. ia melaporkan bahwa “tiap kota China mempunyai kota Muslim dimana hanya hidup orang-orang Muslim. Dalam kota-kota ini ada masjid dan lembaga-lembaga lain. Orang-orang muslim sangat dihormati.”
Dinasti Mongol (Yuan) jatuh pada 1368 M, diganti oleh dinasti Ming yang berlanjut sampai tiga abad sampai tahun 1644 M. Selama periode ini, Muslim mencapai puncak kemakmuran dan pengaruh. Periode ini juga bercirikan berakhirnya imigrasi Muslim dan ditandai dengan meningkatnya jumlah orang China yang masuk Islam. Akibatnya perubahan sempurna cirri-ciri komunitas Muslim, dari komunitasasing, sekalipun telah hadir selama tujuh abad, menjadi komunitas asli secara sempurna, tanpa kehilangan Islamnya. Hasil paling mengesankan dari penghasilan ini adalah penggantian kedudukan bahasa Persia sebagailingua franca komunitas Muslim oleh China Mandarin dalam mana sekunpulan besar literature Muslim dikembangkan. Efek lain adalah meluasnya nama-nama China dikalangan orang-orang Muslim: Muhammad menjadi ‘Ma’, Mustapha menjadi ‘Mu’, Mas’ud ‘Si’, Dawwud dan Tahir ‘Ta’, Hasan ‘Ha’, Husayn ‘Hu’, Badruddin, Jalaluddin, dan seterusnya menjadi ‘Ning’, Najib dan Nasir menjadi ‘Na’, Salim, Salih menjadi “Sha’, Ali menjadi ‘Ay’, dan seterusnya. Orang-orang Muslim juga menyerap kebiasaan-kebiasaan China yang tidak mengganggu pengajaran Islam. Mereka saling kawin-mengawini dengan orang-orang China yang masuk Islam secara besar-besaran sehingga tidak mungkin mengenali China dengan Muslim dari China non-Muslim.
Pengaruh Muslim sepanjang Dinasti Ming pernah lebih besar daripada masa Dinasti Mongol. Kaisar pertama dari dinasti itu, Ming Tsai Tsu, dan Kaisar Wanita diperkirakan telah menjadi muslim. Kecintaan Kaisar terhadap Nabi Muhammad sudah terkenal dan sangat terang-terangan. Ia menulis puisi memuji-muji nabi dan memahatnya diatas marmer di masjid Jami’ Kota Nankin (masih ada sampai sekarang). Kaisar Yung Lu (1405-32 M) menggunakan Kalender Hijrah sebagai kalender resmi China dan mengirim Duta Besar Muslim, Chung Hu, ke beberapa negara Muslim untuk membangun hubungan yang hangat dengan mereka. Kebanyakan pejabat tinggi Dinasti Ming juga Muslim.
Terkecuali Turkestan Timur (Singkiang-Uighur), yang sebenarnya lebih merupakan bagian Turki daripada China, Islam tidak pernah mampu membangun suatu entitas politik yang merdeka dan abadi di China. Memang benar, di bawah rezim Mongol (1279-1368), posisi muslim China sangat berpengaruh, dan banyak ahli sejarah memandang Dinasti Yuan adalah muslim. Pengaruh ini tidak menurun di bawah Dinasti Ming (1368-1644), sepanjang dinasti ini muslim menjadi terintegrasi dengan baik dalam kebudayaan China tanpa kehilangan identitas muslimnya.
Muslim China mengalami periode mengerikan dan penganiayaan terus-menerus yang berlangsung sekitar tiga abad di bawah Dinasti Manchu (1644-1911). Pengalaman itu di abad Sembilan belas membawa kepada revolusi-revolusi musim dan kepada pendirian negara-negara muslim yang berumur pendek di Yunan, Khansu dan Turkestan Timur. Semua negara ini dihancurkan dengan biaya sangat besar bagi kehidupan muslim.
Memasuki abad sekarang, revolusi nasionalis China pada 1911, didukung oleh massa muslim yang sangat ingin menghancurkan rezim Manchu. Dari 1911 sampai 1948, Islam menyaksikan suatu kebangkitan kembali yang sebenarnya di China dan orang-orang muslim mulai mendapatkan kembali beberapa pengaruhnya yang dulu. Sejak pembentukan rezim Komunis pada 1948, suatu bentuk penindasan baru yang dilakukan terhadap orang muslim. Semua kontak antara muslim di berbagai bagian China dan dunia lain berhenti. Masjid-masjid dan sekolah-sekolah muslim ditutup, para imam dibunuh atau dipenjarakan. Struktur kekeluargaan muslim dihancurkan dan para anggotanya bubar.
Mayoritas muslim China mengikuti mazhab Hanafi. Sekitar 90 % muslim adalah China dalam pengertian yang hampir seutuhnya. Namanya China, wajah mukanya China, begitu juga kebudayaannya. Ini sering disebut Huis oleh China yang lain. Sisanya 10% adalah Turki dan Mongol. Muslim lebih banyak di provinsi-provinsi utara daripada provinsi selatan.
Rezim komunis tidak memerlukan identifikasi agama dalam sensus. Namun jumlah muslim yang bukan berasal dari etnik China dapat ditaksir dari sensus kebangsaannya. Bagi muslim yang secara etnis adalah China, jumlahnya dapat dihitung atas dasar sensus 1936. Sensus ini menunjukkan jumlah muslim di tiap provinsi dan juga jumlah penduduk muslim seluruhnya. Jumlah muslim seluruhnya ditaksir 47.437.000 orang atau 10,5% dari jumlah penduduk. Jika persentase ini tidak berubah, kita sampai pada suatu angka 107 juta pada 1982.
Muslim merupakan mayoritas di dua wilayah: daerah otonom Singkian-Uighur dan provinsi Chinghai. Muslim juga mendekati mayoritas dalam dua wilayah lain: Ninghsia-Hui (47%) dan Khansu (40%). Namun wilayah-wilayah dengab persentase muslim yang tinggi menjadi wilayah tujuan imigrasi non-muslim secara besar-besaran yang cenderung menipiskan karakter keislaman.
Bagi muslim China periode 1952-1968 mirip era Stalin di Uni Soviet. Kelaparan buatan dicipatakan, penduduk muslim dibubarkan, masjid-masjid dibakar, lembaran-lembaran Al-Qur’an dirobek berserakan dan para pemimpin muslim dianiaya dan dihina. Baru-baru ini saja, beberapa perbaikan nasib orang-orang muslim seakan-akan telah terjadi. Harapan-rapan telah meningkat setelah meninggalnya Mao-Tse-Tung dan penyisihan “Kelompok Empat”.

Perkebangan Islam di China
Sejak sebelum era Islam sudah terjadi hubungan perdagangan antara dunia Arab dan China. Jalur perdagangan ini ada yang melewati laut dan ada yang melewati darat (jalur sutera). Beberapa pedagang Arab disebut-sebut sudah ada yang menetap di beberapa kota bandar dagang di negeri China, seperti Kanton, Chang Chow, dan Chuan Chow. Walaupun ada yang berpendapat Islam sudah masuk ke Kanton sejak zaman Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, tetapi hubungan resmi antara pemerintah Islam dan China terjadi pada masa Khalifah Utsman ibn Affan radhiyallahu ’anhu yang mengirim delegasi pada kaisar Dinasti Tang (618-905). Hal ini tercatat dalam sejarah resmi (Annals) Dinasti Tang.4

Sejak itu terjadi hubungan diplomatik yang baik antara kekhalifahan Islam dan Dinasti Tang. Catatan resmi dinasti tersebut menyebutkan adanya 37 kali perutusan diplomatik di antara kedua belah pihak. Salah satu kaisar China yang terguling karena pemberontakan pada tahun 755 M bahkan pernah mendapat bantuan militer dari pasukan muslim yang dikirim dari Asia Tengah sehingga dinasti tersebut berhasil mendapatkan kembali kedaulatannya. Sebagai balasannya, sang kaisar mengizinkan pasukan muslim yang telah membantunya itu untuk tinggal di salah satu distrik di ibukota Dinasti Tang dan membolehkan mereka melakukan pernikahan dengan perempuan-perempuan China.5
Di akhir masa pemerintahan Dinasti Tang tercatat adanya 120.000 orang asing menetap di China. 80 persen dari jumlah tersebut adalah orang-orang Arab, selebihnya orang Persia, Nasrani, dan Yahudi.6Orang-orang Arab muslim yang menetap di China pada abad ke-8 telah memperoleh hak khusus untuk mengatur urusan serta memilih pemimpin di antara mereka sendiri. Hal ini menunjukkan adanya hubungan baik serta kepercayaan pemerintah China kepada komunitas muslim yang tinggal di sana. Mobilitas yang dinamis di antara dunia Islam dan Tiongkok telah memungkinkan para ahli geografi muslim mencatat keadaan geografis dan kebudayaan China dengan baik pada masa yang relatif dini, seperti yang bisa didapati pada sebuah kitab anonim berjudul Silsilat al-Tawarikh yang mungkin disusun pada paruh terakhir abad ke-9 dan diedit oleh Abu Zaid al-Sirafi dan kemudian dikutip oleh al-Mas’udi dalam Muruj al-Dzahab-nya.7


Pada masa-masa berikutnya, eksistensi Islam di China terus berlanjut, malah semakin baik. Ketika China dikuasai oleh Mongol dan terbentuk Dinasti Yuan (1279-1368 M), pengaruh Islam di Tiongkok semakin kokoh. Banyak muslim Arab atau Persia yang diberdayakan dalam pemerintahan dan militer China. Beberapa di antaranya bahkan memegang posisi yang strategis, seperti Saidian Chi (Say Dian Chih/ Sayyid Shini/ Sayyid Syamsuddin) yang menjadi Gubernur di Yunnan. Sebuah pribahasa China sampai-sampai menyebutkan ”Hui-Hui (muslim) tersebar luas di seluruh penjuru China pada masa Dinasti Yuan.”8 Pada masa ini kaum Muslimin bahkan dipanggil dengan sebutan Da’shman yang bermakna ’orang terpelajar,’ di samping sebutan Mu Su Lu Man dan Hui-Hui.9


Keberadaan Islam di China mencapai puncaknya pada masa Dinasti Ming (1368-1644) yang menggantikan Dinasti Yuan. Ibrahim Tien Ying Ma menyebutkan bahwa istri kaisar pertama Dinasti Ming adalah seorang muslimah yang dikenal sebagai Ratu Ma (Ma menurutnya merupakan nama keluarga muslim China yang berasal dari kata ’Muhammad’). Empat dari enam panglima yang mendukung proses revolusi yang melahirkan Dinasti Ming juga merupakan panglima-panglima muslim. Ia juga berargumen bahwa kaisar pertama Dinasti Ming, Chu Yuan Chang, dan kaisar-kaisar Ming berikutnya menganut agama Islam, walaupun mereka tidak menjadikan Islam sebagai agama resmi negara.10 Yang jelas, masyarakat China mencapai puncak kejayaannya pada masa dinasti ini dan pada masa ini pula Islam mencapai puncak pengaruhnya di negeri tersebut. Admiral Cheng Ho pun menjalankan misi diplomasinya yang sangat menonjol ke Timur Tengah dan Asia Tenggara pada awal pemerintahan Dinasti Ming.


Ketika dinasti ini jatuh oleh gerakan demokrasi dan republikan yang dipimpin oleh Dr. Sun Yat Sen, kaum Muslimin China merasakan keadaan yang lebih baik dan ikut memberikan kontribusi yang cukup penting. Namun, ketika komunisme berkuasa di China sejak tahun 1950, mereka kembali mengalami kemunduran dan mendapat tekanan yang luar biasa. Masjid-masjid dan para imamnya dihancurkan dan disingkirkan oleh pemerintah komunis pada masa Reformasi Keagamaan (1958) dan Revolusi Kebudayaan (1966-1976).


Liu Baojun memberi contoh bahwa di provinsi Qinghai setelah tahun 1958 hanya tersisa 8 masjid, padahal sebelumnya ada 931 masjid. Jumlah imam dan staf keagamaan di masjid-masjid pun tinggal 12 orang setelah tahun 1958, dari sebelumnya yang berjumlah 5940 orang. Pada masa Revolusi Kebudayaan, masjid dan para imam di provinsi tersebut sama sekali tidak tersisa lagi. Pelaksanaan kewajiban Islam seperti shalat lima waktu dan pergi haji tidak diizinkan. Yang terakhir ini menyebabkan muslim China mengalami keterputusan hubungan dengan negeri-negeri Muslim lainnya dan menjadikan generasi muda mereka mengalami kesenjangan dalam pemahaman Islam. Namun sejak masa pemerintahan Deng Xiaoping, keadaan muslim di China menjadi lebih baik. Keyakinan mereka serta kebebasan dalam menjalankan kewajiban keagamaan dilindungi oleh undang-undang.12


Ketegangan antara muslim dengan pemerintah komunis China memang masih terjadi pada waktu-waktu tertentu, seperti yang berlaku di wilayah Xinjiang belum lama ini. Namun itu bukan berarti kaum Muslimin sama sekali tidak memiliki peluang untuk berkembang dan memajukan diri pada masa-masa yang akan datang. Islam telah hadir sejak awal keberadaannya di China dan telah menjadi bagian integral serta memberikan kontribusi yang sangat penting dalam perjalanan sejarah bangsa tersebut. Walaupun belakangan mendapat tekanan luar biasa dari rezim yang berkuasa, tetapi Islam bukan hanya masih eksis di China, tetapi juga masih memiliki jumlah penganut yang sangat besar. Sementara agama Yahudi dan Kristen Nestorian yang lebih dulu masuk ke China telah habis tak bersisa.
Kenyataan ini juga rupanya yang mendorong ketertarikan Isaac Mason, seorang misionaris di China pada awal abad ke-20, untuk menerjemahkan sebuah karya biografi tentang Nabi Muhammad yang ditulis oleh seorang ilmuwan Muslim China bernama Liu Chai-Lien atau Liu Chih. Dalam pengantarnya Mason menulis, ”Nestorianisme menghilang bak air yang merembes ke dalam pasir, meninggalkan tak satu pun pengikut di negeri ini; dan hal yang sama juga secara praktis berlaku pada komunitas Yahudi masa lalu. Apa, kemudian, dinamika dalam agama ini (Islam, pen.) yang secara tegar menolak untuk terserap oleh lingkungannya, dan secara gigih membanggakan superioritasnya terhadap seluruh sistem lainnya? Sementara sepenuhnya menyadari, dan mengakui sebab-sebab lainnya, saya percaya bahwa keperibadian sang Nabi (Muhammad, pen.), sebagaimana yang dipahami dan dipercayai oleh para pengikutnya, telah menjadi faktor yang sangat kuat dalam memelihara agama Islam.”13

Kebangkitan Islam Modern di China
Dinasti Ming dijatuhkan oleh penyerang-penyerang Manchu yang membangun Dinasti Ching. Ini adalah pendudukan asing yang berlandaskan divide et impera. Dari semula mereka menunjukkan ketidaksenangan yang mendalam kepada orang Muslim dan memandangnya sebagai pendukung dinasti yang lalu. Dibawah rezim Ching dari 1644-1911 M orang Muslim menjadi sasaran kekejaman yang paling buruk. Mereka mebalas dengan pemberontakan terus-menerus melawan rezim itu yang berakibat kehilangan besar kehidupan, pengaruh dan harta benda. Ching memusatkan usaha-usaha anti-Islamnya di daerah-daerah yangsangat padat Islamnya, seperti Turkestan Timur, Khansu dan Yunnan. Karena itu disana terjadi sederetan pemberontakan Muslim yang tidak berhasil yang dipimpin oleh Su Sei-San (1758 M) dan oleh Ma Man-Sein (1768 M) di Khansu: pemberontakan yang dipimpin oleh Gingah di Turkestan Timur (1828-27 M), peberontakan Sulayman Dwo-Nasyn di Yunnan (1837-55 M) dan pemberontakan Yaqub di Shau-Si, di Khansu dan Turkestan Timur (1855-75 M).
Yang terpenting dari sederetan pemberontakan ini adalah pemberontakan Yunnan, di mana orang-orang Muslim mampu membebaskan kota-kota Dali dan Yunnan (ibukota provinsi). Mereka juga mampu membangun negara Muslim. Namun, negara ini disusupi dan setelah delapan tahun merdeka, ia dihancurkan dari dalam oleh perang saudara. Ini diikuti oleh pembunuhan-pembunuhan missal orang-orang Muslim yang meluas yang sangat mengurangi jumlah mereka. Revolusi Yakub di Kanshu berlangsung selama dua puluh lima tahun. Pada awalnya orang-orang Muslim seolah-olah telah memenangkan peperangan, tetapi pada akhirnya mereka dihancurkan justru ketika di Yunnan.
Jadi abad Sembilan belas di China merupakan abad pemberontakan Muslim terus-menerus melawan penindasan. Dapat diringkaskan dalam kata-kata Imam China terkenal Ibrahim Shiong: “Sejarah perjuangan Muslim untuk hidup sepanjang lebih dari tiga abad penindasan dan kezaliman merupakan bukti terbaik kesatuan mereka (Muslim) dan keinginan mereka yang luar biasa untuk menentang siapapun yang berani menantang keyakinan mereka dan jalan hidup mereka yang Islami berupa lamanya pun ini harus dilakukan.”
Karena itu tidak aneh kalau orang Muslim termasuk pendukung Revolusi Republik pada 1911 yang paling setia. Presiden pertama republik Dr. Sun Yat Sen, menanggapi dengan membebaskan orang Muslim dari segala penganiayaan. Ia menyatakan bahwa bangsa China terdiri dari lima komponen yang sama: Han (orang Budha China); Hui (Muslim China); Ming (Mongol); Man (Manchu); dan Tsang (orang Tibet).
Namun penganiayaan Manchu selama tiga abad menyebabkan orang Muslim lebih miskin, jumlahnya berkurang, terputus hubungan dengan Dunia Muslim yang lain. Walaupun kesetiaan mereka terhadap Islam kuat, tetapi pengamalan Islam mereka memerlukan banyak peningkatan. Setelah 1911, Muslim China membangun kembali kontak-kontak dengan Dunia Muslim, melakukan upaya perbaikan organisasai dan pendidikan dan membawa kembali massa Muslim kepada garis ortodoks. Yang paling meninjol adalah pendirian Organisasi MUSLIM China Progresif di Beijing yang dipimpin oleh Al-Haj Ahound Wang Haonan yang aktivitasnya terpusat pada penyebaran pendidikan Islam, pengajaran bahasa Arab, dan pembangunan masjid dan sekolah. Pada 1938, sustu organisasi baru Pan China Muslim didirikan di bawah pimpinan seorang jenderal angkatan darat Muslim. Ia mengorganisasi milisi Muslim untuk mempertahankan negaranya dari serbuan Jepang. Organisasi yang sama menerjemahkan Al-qur’an ke dalam bahasa China, dan mengirim ratusan pelajar. Pada 1926 Organisasi Kebudayaan Muslim China dibentuk di Shanghai, dipimpin oleh Al-Haj Jalaluddin Hat-Hshing. Peranan organisasi itu adalah mengatur pendirian studi Al-Qur’an (tafsir) dan hadist nabi. Organisasi ini memulai sejumlah besar sekolah dan perpustakaan dan memberikan beasiswa kepada banyak mahasiswa.
Secara cultural, terjadi kebangkitan kembali Muslim sejak di China pada periode 1911-48. Selama periode ini orang-orang Muslim membangun lebih dari seribu sekolah dasar dan perpustakaan dan banyak sekolah menengah. Mereka berhasil dalam mengenalkan studi bahasa Arab dan Islam di universitas-universitas China, seperti Universitas Beijing, Universitas Central, Universitas Tchung-San, dan sebagainya. Mereka memproduksi sejumlah besar literatur Islam dalam bahasa China melalui majalah-majalah Islam seperti: Majalah Studi Islam China; Surat Kabar Islam, Majalah, Sinar Islam, Matahari Terbit, Pemuda Muslim, Al-Islah, Kemanusiaan, Majalah Chee, Majalah Bang-Tou, Batas-batas, Al-Awqaf, dan sebagainya.
Secara politik, Muslim membuat pemunculan kembali secara mengesankan. Banyak di antara mereka bergabung dengan Revolusi Nasionalis dan bertempur dengan keberanian tinggi. Mereka menanggapi seruan Dr. Sun Yat Sen ketika dia berbicara dalam satu pidatonya yang terkenal: “Orang Muslim mempunyai tujuan revolusioner yang kuat. Mereka melawan penindasan di abad-abad yang lalu. Karena alasan ini kami meminta mereka bergabung dengan gerakan revolusi kita. Gerakan Nasionalis China tidak akan berhasil tanpa bantuan orang-orang Muslim, dan pekerjaan mengalahkan penjajahan tidak akan dilakukan tanpa kesatuan yang sempurna dalam usaha-usaha antara orang-orang China dan ummah Muslim.
Pada 1946, ada lebih dari seratus wakil Muslim di parlemen China. Para gubernur daerah-daerah mayoritas Muslim semuanya orang Muslim: Turkestan Timur, Tsinghai dan Ningsia, dan Khansu. Banyak menteri-menteri Muslim dalam pemerintahan, seperti Tn. Ma Fu Sian, dan Jenderal Omar Bay yang menjadi Menteri Pertahanan setelah Perang Dunia II. Orang-orang Muslim bergabung dengan tentara dalam jumlah besar dan banyak di antara mereka menonjol, seperti Jenderal Husayn Bufan Ma, Bushin Ma dan Jee-Yuan Ma.
Usaha pengorganisasian semua Muslim China di bawah satu payung tunggal dimulai oleh Muslim Mongolia, yang pada 1938, membiayai pembentukan “Liga Lima Ma”.

Kekuatan Angka dan Penyebaran Kebangsaan

Provinsi
Jumlah Muslim (ribuan)
Turkestan Timur
2.400
Khansu
3.000
Hopeh dan Beijing
1.000
Shan-Si
1.000
Yunnan
1.000
Manchuria
200
Shan-Toung
200
Honan
200
Kiang-Su
250
Sichuan
250
Daerah-daerah lain
141
Jumlah
9.641


Rezim komunis membuat sensus di China pada 1953. Namun rezim ini tidak menganggap penting afiliasi keagamaan penduduk. Seperti di Uni Soviet, rezim komunis mengakui prinsip kebangsaan di daerah-daerah terpencil. Rezim itu mengakui enam kebangsaan Muslim di daerah otonom Singkiang-Uighur; dua di Provinsi Khansu, dan satu di Chinghai.
—————————
Catatan Kaki:
Ibid., hlm. 5-6. Lihat juga Tien Ying Ma, Ibrahim, Perkembangan Islam di Tiongkok (diterjemahkan oleh Joesoef Sou’yb), Jakarta: Bulan Bintang, hlm. 24-27. Tien Ying Ma menyebutkan bahwa interaksi awal ini pada awalnya disebabkan kaisar China pada masa itu, Yong Hui, melibatkan dirinya dalam konflik antara Persia dan kaum Muslimin dengan memberikan bantuan bagi kaisar Persia terguling, Yezdegird, untuk memulihkan kekuasannya. Upaya Yezdegird ini gagal dan ia sendiri pada akhirnya mati terbunuh. Intervensi kekaisaran Cina inilah yang menyebabkan Khalifah Utsman mengirimkan delegasi kepada kaisar Cina sebagai teguran. Dikatakan juga bahwa delegasi pertama yang dikirim ini dipimpin oleh Sa’ad ibn Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.
5Liu Baojun, ibid., hlm. 6.
6Tien Ying Ma, op.cit., hlm. 31. Agama Nasrani yang masuk ke China pada masa itu adalah dari sekte Nestorian yang memang banyak menyebar ke wilayah Timur.
7Showket, Ibrahim, Arab Geography Till the End of the Tenth Century (disertasi), Michigan: University Microfilms International (UMI), 1987, hlm. 61-63.
8Liu Baojun, loc.cit., hlm. 6-7. Ibrahim Tien Ying Ma memberikan kutipan peribahasa yang sedikit berbeda tapi dengan maksud yang sama. Ia juga memberikan penjelasan yang cukup detail tentang Saidian Chi serta peranan ahli keuangan Muslim dalam menjaga stabilitas ekonomi Dinasti Yuan. Tien Ying Ma, loc.cit., hlm. 66-87.
9Tien Ying Ma, ibid., hlm. 65-66.
10Ibid., hlm. 122-135.
11 Liu Baojun, loc.cit., hlm. 41-42.
12 Ibid., hlm. 46-50.
13 Liu Chai Lien, The Arabian Prophet: A Life of Mohammed from Chinese and Arabic Sources (diterjemahkan oleh Isaac Mason), Shanghai: Commercial Press, 1921, hlm. v. Buku ini ditulis oleh Liu Chai Lien dalam beberapa tahap penulisan, yang agaknya disebabkan oleh keterbatasan akses terhadap sumber-sumber biografi Nabi di China, diselesaikan pada tahun 1724, dan baru bisa dicetak 55 tahun kemudian. Edisi ini diterjemahkan dan diterbitkan oleh Isaac Mason dan diberi pengantar oleh Samuel Zwemer, keduanya merupakan aktivis misionari Kristen ke wilayah Timur dan negeri-negeri Muslim.
14 M. Ali Kettani, Minoritas Muslim di Dunia Dewasa Ini, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2005), hlm. 126.
15 M. Ali Kettani, Minoritas Muslim di Dunia Dewasa Ini, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2005), hlm. 130.

Mengenal Muslim Indonesia

Awal Mula Masuknya Islam Di Indonesia

Seperti yang telah di terangkan dalam buku-buku sejarah dan sejarah cerita secara turun-temurun tentang masuknya peradaban Muslim/Islam di Indonesia akan menemui beberapa versi pendapat yang berbeda. semua bisa di Lihat dari adanya beberapa arkeologi sejarah yang di temukan.

Beberapa Pendapat Tentang Awal Masuknya Islam di Indonesia.
Islam Masuk ke Indonesia Pada Abad ke 7:
1. Seminar masuknya islam di Indonesia (di Aceh), sebagian dasar adalah catatan perjalananAl mas’udi, yang menyatakan bahwa pada tahun 675 M, terdapat utusan dari raja Arab Muslim yang berkunjung ke Kalingga. Pada tahun 648 diterangkan telah ada koloni Arab Muslim di pantai timur Sumatera.
2. Dari Harry W. Hazard dalam Atlasof Islamic History (1954), diterangkan bahwa kaum Muslimin masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dilakukan oleh para pedagang muslim yang selalu singgah di sumatera dalam perjalannya ke China .
3. Dari Gerini dalam Futher India and Indo-Malay Archipelago, di dalamnya menjelaskan bahwa kaum Muslimin sudah ada di kawasan India, Indonesia, dan Malaya antara tahun 606-699 M.
4. Prof. Sayed Naguib Al Attas dalam Preliminary Statemate on General Theory of Islamization ofMalay-Indonesian Archipelago (1969), di dalamnya mengungkapkan bahwa kaum muslimin sudah ada di kepulauanMalaya-Indonesia pada 672 M.
5. Prof. Sayed Qodratullah Fatimy dalam Islam comes to Malaysia mengungkapkan bahwa pada tahun 674 M. kaum Muslimin Arab telah masuk ke Malaya .
6. Prof. S. muhammmad Huseyn Nainar, dalam makalah ceramahnay berjudul Islam di India dan hubungannya dengan Indonesia, menyatakan bahwa beberapa sumber tertulis menerangkan kaum Muslimin India pada tahun 687 sudah adahubungan dengan kaum musliminIndonesia.
7. W.P. Groeneveld dalam Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled From Chinese sources, menjelaskan bahwa pada Hikayat Dinasti T’ang memberitahukan adanya Aarb muslim berkunjung ke Holing (Kalingga, tahun 674). (Ta Shih =Arab Muslim).
8. T.W. Arnold dalam buku The Preching of Islam a History of The Propagation of The Moslem Faith, menjelaskan bahwa Islam datang dari Arab ke Indonesia pada tahun 1 Hijriyah (Abad 7 M)

Islam Masuk Ke Indonesia pada Abad ke-11:
1. Satu-satunya sumber ini adalah diketemukannya makam panjangdi daerah Leran Manyar, Gresik, yaitu makam Fatimah Binti Maimoon dan rombongannya. Pada makam itu terdapat prasati huruf Arab Riq’ah yang berangka tahun (dimasehikan 1082)
2. Islam Masuk Ke Indonesia Pada Abad Ke-13:
1. Catatan perjalanan marcopolo, menyatakan bahwa ia menjumpai adanya kerajaan Islam Ferlec (mungkin Peureulack) di aceh, pada tahun1292 M.
2. K.F.H. van Langen, berdasarkan berita China telah menyebut adanya kerajaan Pase (mungkin Pasai) di aceh pada 1298 M.
3. J.P. Moquette dalam De Grafsteen te Pase en Grisse Vergeleken Met Dergelijk Monumenten uit hindoesten, menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 13.
4. Beberapa sarjana barat seperti R.A Kern; C. Snouck Hurgronje; dan Schrieke, lebih cenderung menyimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13, berdasarkan saudah adanya beberapa kerajaaan islam di kawasan Indonesia.

Siapakah Pembawa Islam ke Indonesia ?
Sebelum pengaruh islam masuk ke Indonesia , di kawasan ini sudah terdapat kontak-kontak dagang, baik dari Arab , Persia , India dan China . Islam secara akomodatif, akulturasi, dan sinkretis merasuk dan punya pengaruh di arab, Persia , India dan China . Melalui perdagangan itulah Islam masuk ke kawasan Indonesia . Dengan demikian bangsa Arab , Persia , India dan china punya nadil melancarkan perkembangan islam di kawasan Indonesia .
Gujarat ( India )
Pedagang islam dari Gujarat , menyebarkan Islam dengan bukti-bukti antar lain:
1. Ukiran batu nisan gaya Gujarat .
2. Adat istiadat dan budaya India islam.
Persia
Para pedagang Persia menyebarkan Islam dengan beberapa bukti antar lain:
1. Gelar “Syah” bagi raja-raja di Indonesia .
2. Pengaruh aliran “Wihdatul Wujud” (Syeh Siti Jenar).
3. Pengaruh madzab Syi’ah (Tabut Hasan dan Husen).
Arab
Para pedagang Arab banyak menetap di pantai-pantai kepulauan Indonesia , dengan bukti antara lain:
1. Menurut al Mas’udi pada tahun 916 telah berjumpa Komunitas Arab dari Oman, Hidramaut, Basrah, dan Bahrein untuk menyebarkan islam di lingkungannya, sekitar Sumatra,Jawa, dan Malaka.
2. munculnya nama “kampong Arab” dan tradisi Arab di lingkungan masyarakat, yang banyak mengenalkan islam.
China
Para pedagang dan angkatan lautChina (Ma Huan, Laksamana ChengHo/Dampo awan ?), mengenalkan islam di pantai dan pedalaman Jawa dan sumatera, dengan buktiantar lain :
1. Gedung Batu di semarang (masjid gaya China ).
2. Beberapa makam China muslim.
3. Beberapa wali yang dimungkinkan keturunan China .
Dari beberapa bangsa yang membawa Islam ke Indonesia pada umumnya menggunakan pendekatan cultural, sehingga terjadi dialog budaya dan pergaulan social yang penuh toleransi (Umar kayam:1989)
Proses Awal Penyebaran Islam di Indonesia
1. Perdagangan dan Perkawinan
Dengan menunggu angina muson (6 bulan), pedagang mengadakan perkawinan dengan penduduk asli.Dari perkawinan itulah terjadi interaksi social yang menghantarkan Islam berkembang(masyarakat Islam).
2. Pembentukan masyarakat Islam dari tingkat ‘bawah’ dari rakyat lapisan bawah, kemudian berpengaruh ke kaum birokrat (J.C. Van Leur).
3. Gerakan Dakwah, melalui dua jalur yaitau:
a. Ulama keliling menyebarkan agama Islam (dengan pendekatan Akulturasi dan Sinkretisasi/lambing-lambang budaya).
b. Pendidikan pesantren (ngasu ilmu/perigi/sumur), melalui lembaga/sisitem pendidikan Pondok Pesantren, Kyai sebagai pemimpin,dan santri sebagai murid.
Dari ketiga model perkembangan Islam itu, secara relitas Islam sangat diminati dan cepat berkembang di Indonesia . Meskipun demikian, intensitas pemahaman dan aktualisasi keberagman islam bervariasi menurut kemampuan masyarakat dalam mencernanya.
Ditemukan dalam sejarah, bahwa komunitas pesantrean lebih intenskeberagamannya, dan memiliki hubungan komunikasi “ukhuwah” (persaudaraan/ikatan darah dan agama) yang kuat. Proses terjadinya hubungan “ukhuwah” itu menunjukkan bahwa dunia pesantren memiliki komunikasi dankemudian menjadi tulang punggung dalam melawan colonial.

Mempersiapkan Kongres Pemuda Indonesia Pertama

MEMPERSIAPKAN KONGRES PEMUDA INDONESIA PERTAMA

         Pada tahun 1925, Perhimpunan Indonesia menerbitkan majalah, yang diberi nama “Indonesia Merdeka”. Perhimpunan Indonesia, adalah suatu organisasi masyarakat Indonesia yang berada di negeri Belanda.Para pemimpin Perhimpunan Indonesia, adalah para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di negeri Belanda.Dalam nomer perdana majalah “Indonesia Merdeka”, yang terbit bulan Februari 1925, dimuat tulisan tentang tujuan gerakan Perhimpunan Indonesia. Pengurus Perhimpunan Indonesia,mengirimkan sejumlah majalah “Indonesia Merdeka” ke tanah air. Dikirim ke alamat-alamat pelbagi organisasi pemuda di tanah air.Pada masa itu, di Indonesia sudah ada pelbagi organisasi pemuda.Kegiatan-kegiatan mereka, mengutamakan kepentingan daerah atau suku masing-masing.Namun, di antara para pemimpin pelbagai organisasi pemuda itu, sudah ada yang telah mempunyai gagasan mulia.Yakni, gagasan untuk merintis persatuan nasional di kalangan Angkatan Muda Indonesia.Untuk selanjutnya, merintis persatuan nasional di kalangan seluruh masyarakat.
            Rupanya isi majalah “Indonesia Merdeka”, makin mendorong semangat mereka, untuk bersama-sama berusaha mewujudkan gagasan yang mulia itu.Maka, mereka lalu melakukan pertemua-pertemuan.Akhirnya mereka mufakat, untuk menyelenggarakan semacam muktamar pemuda Indonesia. Dalam muktamar itu, akan dibahas pelbagai segi untuk merintis usaha ke arah persatuan nasional. Dimufakati pula, muktamar pemuda Indonesia yang akan mereka selenggarakan itu, disebut Kongres Pemuda Indonesia Pertama.
            Pada tanggal 15 November 1925, mereka berhasil membentuk Panitia Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Susunannya adala sebagai berikut :
Ketua              : M. Tabrani
Wakil Ketua   : Sumarto
Sekretaris      : Jamaludin
Bendahara     : Suwarso
Pembantu      : Bahder Johan, Yan Toule Soulehuwiy, Paul Pinantoan, Hamami, Sarabini, Sanusi Pane.
Tujuan Kongres Pemuda Indonesia Pertama adalah : Menggugah semangat kerja sama antar organisasi-organisasi pemuda di tanah ai, untuk meletakkan dasar persatuan Indonesia. Panitia Kongres Pemuda Indonesia Pertama itu, mandiri.Artinya, semua kegiatannya dilakukan atas prakarsa dan atas tanggung jawab Panitia Kongres.Tidak atas prakarsa dan tidak atas tanggung jawab sesuatu organisasi penmuda. Meraka yang duduk dalam Panitia Kongres pun, bekerja secara sukarela. Satu sen pun, mereka tidak menerima imbalan. Selama berbulan-bulan, merka bekerja keras tanpa mengenal waktu pagi, siang, sore, dan malam hari.Semangat pengabdian tanpa pamrih dan semangat gotong royong itulah yang memungkinkan diselenggarakannya Kongres Pemuda Indonesia Pertama.
            Pada awal tahun 1926, Panitia Kongres sudah berhasil menyusun jadwal acara.Rangkaian ceramah-ceramah merupakan acara pokok siding-sidang umum Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Enam orang pemuda pemudi akan tampil sebagai penceramah. Mereka itu ialah : Sumarto,Bahder Johan, Muh. Yamin, Jaksodipura, Paul Pinontoan, dan Nona Stien Adam.

Rangkaian ceramah-ceramah terdiri atas tiga pokok pembicaraan :
1.    Tentang persatuan bangsa Indonesia
2.    Tentang kedudukan dan peranan wanita dalam masyarakat Indonesia.
3.    Tentang peranan agama dalam gerakan persatuan bangsa Indonesia.
Panitia Kongres juga membentuk suatu Panitia Perumus. Tugas Panitia Perumus, ialah mempersiapkan naskah rumusan putusan Kongres Pemuda Indonesia Pertama.
            Jadwal pelaksanaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama ditetapkan, mulai dari tanggal 30 April 192 sampai dengan tanggal 2 Mei 1926. Berkat kerja sama dan kerja keras Panitia Kongres, dalam bulan maret 1926, hamper semua masalah teknis dan administrative untuk pelaksanaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama, telah diatasi. Namun, masih ada satu masalah yang belum sempat diselesaikan. Yakni, surat izin kepolisian Hindia Belanda.
            Pada masa itu, semua kegiatan yang diselenggarakan oleh pemuda Indonesia di ibu kota Hindia Belanda, harus memperoleh izin lebih dulu dari pembesar Kepolisian Hindia Belanda. Pembesar yang berwenang itu, berpangkat Komisaris Kepala.Seorang Belanda totok, bernama Visbeen. Ibu kota Hindia Belanda, adalah Jakarta. Oleh Belanda, Jakarta diganti menjadi Batavia. Karena saat pelaksanaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama sudah makin mendekat, M. Tabrani didesak oleh rekan-rekannya agar mereka mengurus surat izin itu. Sebagai Ketua Panitia, tentu saja M. Tabrani tak dapat menolak desakan rekan-rekannya. Maka, segera pula ia berangkat menuju ke Markas Besar Kepolisian Hindia Belanda. Ia dibekali setumpuk dokumen, untuk memenuhi syarat-syarat permohonan izin guna melaksanakan Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Ketika tiba di tempat yang dituju, M. Tabrani terkejut karena bertemu dengan beberapa teman sekolahnya dulu.Kepada ketiga orang teman sekolahnya itu, M. Tabrani mengemukakan maksudnya untuk bertemu dengan Visbeen.Ia juga mengemukakan secara ringkas, apa maksud tujuan menyelenggarakan Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Setelah mendengar apa yang dikemukakan M. Tabrani, ketiga orang tadi serentak menyatakan akan memberikan bantuannya.
            Pada hari yang ditetapkan, M. Tabrani dating berkunjung lagi ke kantor Visbeen. Di sna ia disambut dengan senyum rama oleh Abdulrahman dan teman-teman lainnya. Abdulrahman membisiki M. Tabrani, “Kami sudah menyarankan kepada Visbeen, agar mengeluarkan surat izin.” M. Tabrani tersenyum lalu berkata lirih, “Terima Kasih”.

PELAKSANAAN KONGRES PEMUDA INDONESIA YANG PERTAMA

          Beberapa hari sebelum pembukaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama, M. Tabrani didatangi oleh seorang pemuda bertuduh jangkung.Ia bernama Wage Rudolf Supratman. Pekerjaan, wartawan surat kabar “Sin Po”. Suatu surat kabar berbahasa Melayu yang diterbitkan oleh orang-orang keturunan Cina. Surat kabar itu sering memuat karangan-karangan, berita-berita yang memihak kepada kegiatan-kegiatan angkatan muda Indonesia.Itulah sebabnya, M. Tabrani merasa senang dikunjungi oleh wartawan “Sin Po”.Ia memberi semua keterangan mengenai Kongres Pemuda Indonesia Pertama yang diminta oleh Wage Rudolf Supratman. Kedua orang wartawan itu bersepakat akan menyiarkan berita-berita Kongres, pada hari pembukaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama, tanggal 30 April 1926. Wage Rudolf Supratman akan menyiarkan lewat surat kabar “Hindia Baru”. Sebagai Ketua Panitia, M. Tabrani memberiakan kesempatan seluas-luasnya kepada Wage Rudolf Supratman untuk dapat meliput peristiwa bersejarah itu. Tentu saja Wage Rudolf Supratman sangat berterima kasih kepada M. Tabrani.Ia bejanji akan mengikuti dari dekat berlangsung Kongres Pemuda Indonesia pertama,
            Tepat pada tanggal 30 April 1926, dilaksanakan pembukaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama.Semua organisasi  pemuda mengirimkan wakil-wakil merekauntuk menghadirinya. Karena para tamu dan para peserta yang diundang sangat terbatas, maka jumlah hadirin pada pembukaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama tidaklah banyak.

            Tatkala Ketua Panitia mulai mengucapkan pidato pembukaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama, Nampak Abdulrahman mulai mengajak Visbeen berbincang-bincang.Kemudian Ahmad mangkudilalaga dan Iming Sastradinata ikut berbincang-bincang dengan Visbeen.
            Sementara itu, para hadirin terpukau oleh pidato Ketua Panitis. Betapa tidak, ia mengawali pidatonya dengan kalimat-kalimat sebagai berikut :
            “Putra-putri Indonesia dan Anda semua yang hadir di sini. Atas nama Panitia Kongres Pemuda Indonesia yang Pertama, saya mengucapkan selamat datang. Saya sampaikan ucapan selamat dating kepada Anda semua sebagai pejuang-pejuang kemerdekaan Tanah Air dan Bangsa Kita.Dan sebagai pribadi-pribadi yang memperlihatkan perhatiannya kepada perjuangan nasional kita.Anda semua telah meringankan langkah mengunjungi Kongres Pemuda Indonesia yang pertama ini.Sungguh suatu perbuatan yang patut dihargai.Kongres ini adalah suatu tongkak sejarah dalam sejarah pergerakan pemuda kita.
            Kemudian Ketua Panitia melanjutkan pidatonya dengan ucapan-ucapan sebagai berikut :
            “Kita semua, orang-orang Jawa, Sumatra, Minahasa, Ambon dan lain-lain, oleh sejarah ditempa menjadi insan-insan yang harus bersatu padu, jika kita ingin mencapai tujuan kita bersama. Dan itu adalah, kemerdekaan Indonesia, Ibu Pertiwi Tercinta.”
            “Mengakhiri pidato saya, amat saya harapkan, supaya kongres ini menyuarakan generasi Indonesia sekarang.Yang nantinya terpanggil untuk bekerja, berkarya, berjuang dan mati untuk kemerdekaan Nusa dan Bangsa kita.Rakyat di seluruh kepulauan Indonesia bersatulah!”
            Seusai Ketua Panitia mengucapkan pidatonya, para hadirin serempak menyambut dengan tepuk tangan riuh.Banyak di antara hadirin yang saling berbisik-bisik.Mereka memuji isi pidato Ketua Panitia. Apalagi pidato itu diucapkan di depan hidung Komisaris Kepala Polisi Hindia Belanda.
            Pada acara persidangan berikutnya, Sumarto tampil untuk menguraikan “Gagasan tentang Indonesia Bersatu”. Intisari pidato Sumarto sama dengan yang dikemukakan oleh M. Tabrani. Yaitu, merintis atau menggugah semangat persatuan bangsa Indonesia.
            Jika M. Tabrani menutup pidatonya dengan seruan agar bangsa Indonesia di seluruh Nusantara bersatu, Sumarto berkata sebagai berikut :
            “Jika pada akhir pidato saya ini dinyatakan kepadaku, apa kemauanku dan apa yang sepenuhnya terkandung dalam hatiku, maka jawabku adalah ini : Pemuda Indonesia, bangkitlah menuju persatuan, bangkitlah menuju Indonesia merdeka!”
            Sesaat setelah Sumarto mengakhiri pidatonya, para hadirin serempak menyatakan pujiannya dengan tepuk tangan riuh.Pada saat hadirin bertepuk tangan riuh, Visbeen tampak santai berbincang-bincang dengan seorang pemuda tampan dan seorang pemudi ayu.Ia juga tidak memperhatikan ucapan-ucapan para hadirin yang dengan bersemangat menanggapi pidato Sumarto. Persidangan berlangsung lancar.Visbeen tidak pernah mengajukan teguran.Ibarat seorang macan, Visbeen telah masuk ke dalam jebakan tersamar yang dipasang oleh M. Tabarani.
            Persidangan terakhir Kongres Pemuda Indonesia Pertama, dilangsungkan pada pagi dan siang hari tanggal 2 Mei 1926.Persidangan terakhir itu, terdiri atas beberapa acara.Adapun acara pertama berupa sidang terbuka yang diisi dengan ceramah.Pokok nasional”.Acara kedua, berupa sidang tertutup, yang hanya mempersiapkan naskah rumusan putusan Kongres Pemuda Indonesia Pertama.Acara ketiga, berupa sidang terbuka. Dalam siding terbuka itu akan dikeluarkan pengumuman-pengumuman. Diakhiri dengan pidato penutupan Kongres Pemuda Indonesia Pertama, oleh Ketua Panitia Kongres.
            Acara pertama dimulai tepat pada pukul 07.30.Yang tampil sebagai penceramah, ialah Paul Pinontoan.Paul Pinantoan mengemukakan, bahwa bangsa Indonesia yang terdiri atas ratusan suku itu, pada hakekatnya mempunyai ikatan kekerabatan.Itulah sebabnya, mereka memperlihatkan tenggang rasa dalam kehidupan beragama.Oleh karenanya perbedaan agama bukanlah penghalang gerakan persatuan nasional. Mengenai peranan agama dalam gerakan persatuan nasional Paul Pinantoan berkata sebagai berikut :
            “Tugas agama ialah membentuk tenaga-tenaga tangguh dan tampa pamrih, untuk gerakan persatuan Indonesia kita.”

PENUTUPAN KONGRES PEMUDA INDONESIA PERTAMA

            Persidangan yang ditunda, dimulai lagi pada tengah hari tanggal 2 Mei 1926.Persidangan itu merupakan kegiatan terakhir Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Persidangan terakhir itu akan diisi dengan pengumuman dan pidato penutupan oleh Ketua Panitia Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Tak lama kemudian,Jamaluddin selaku Sekretaris Panitia Kongres membacakan pengumuman. Diumumkan bahwa Kongres Pemuda Indonesia Pertama merupakan cetusan kebulatan tekad angkatan muda dalam merintis terwujudnya persatuan bangsa Indonesia. Bahwa Kongres Pemuda Indonesia Pertama menjadi titik tolak untuk mengadakan Kongres Pemuda Indonesia berikutnya pada tahun-tahun yang akan datang. Dalam tahun 1926 itu juga akan diterbitkan Laporan Kongres Pemuda Indonesia Pertama.
            Setelah Kongres Pemuda Indonesia Pertama dinyatakan telah berakhir oleh Ketua Panitia Kongres, ternyata banyak hadirin yang tidak segera beranjak pergi.Mereka menyempatkan diri untuk menyalami, berjabat tangan dengan M. Tabrani dan rekan-rekannya.

MEMPERSIAPKAN KONGRES PEMUDA INDONESIA II

            Dalam bulan September 1926, para mahasiswa Indonesia di Batavia (sekarang Jakarta), mendirikan suatu organisasi kemahasiswaan.Nama organisasi kemahasiswaan itu adalah Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia. Disingkat PPPI. Pada masa itu istilah pelajar berarti mahasiswa.PPPI berusaha membina jiwa kebangsaan para mahasiswa, agar kelak menjadi pemimpin-pemimpin rakyat dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.Oleh karena itu, PPPI berupaya mempelopori kegiatan dalam masyarakat yang mendorong persatuan bangsa untuk makin menumbuhkan semangat perjuangan kemerdekaan.
            Dalam tahun 1927 Sugondo Joyopuspito, pemimpin PPPI, berhasrat untuk melanjutkan kegiatan yang telah dirintis ole M. Tabrani dan kawan-kawan.Apabila M. Tabrani dan kawan-kawan telah berhasil menyelenggarakan Kongres Pemuda Indonesia Pertama, Sugondo Joyopuspito berhasrat untuk dapat menyelenggarakan Kongres Pemuda Indonesia ke-2.Sugondo Joyopuspito adalah seorang mahasiswa di Sekolah Tinggi Hukum. Dalam tahun 1927 ia berumur dua puluh tahun. Untuk dapat mewujudkan hasrat itu, ia bekerja sama dengan beberapa orang sahabatnya. Mereka itu ialah: Sigit, Suwiryo, Gularso, Darwis.
            Setelah berulang kali mengadakan pertemuan-pertemuan selama beberapa bulan, kelompok Sugondo Joyopuspito itu mencapai kata sepakat.Mereka sepakat untuk berusaha mengadakan Kongres Pemuda Indonesia ke-2 dalam tahun 1928.Disepakati pula, Kongres Pemuda Indonesia ke-2 diselenggarakan oleh suatu Panitia yang mewakili berbagai organisasi pemuda.
            Unuk memperoleh dukungan lebih luas, Sugondo Joyopuspito segera menghubungi tokoh-tokoh sarjana Indonesia yang pernah mempin organisasi Perhimpunan Indonesia d Negeri Belanda. Tokoh-tokoh sarana itu, antara lain ialah Sartono dan Sunario. Kedua orang itu sesudah memperoleh gelar Sarjana Hukum kembali ke tanah air.Di tanah air mereka ikut memimpin pergerakan kebangsaan.Sunario juga giat memimpin organisasi kepanduan yang berasaskan kebangsaan.Ia telah berhasil mempersatukan sejumlah organisasi kepanduan yang berasaskan kebangsaan. Persatuan organisasi-organisasi kepanduan yang dipimpin oleh Sunario itu bernama “Persaudaraan Antar Pandu Indonesia”.Disingkat PAPI. Pada masa kini istilah pandu telah diganti dengan istilah pramuka.
            Sartono dan Sunario memberi dukungan penuh kepada gagasan kelompok Sugondo Joyopuspito.Kedua tokoh itu bahkan menyatakan kesediaannay untuk menjadi Penasehat Hukum kelompok Sugondo Joyopuspito.
            Sesudah memperoleh dukungn dari kedua Sarjana Hukum itu, Sugondo Joyopuspito bergegas pergi menghubungi Sumarto.Tokoh yang menjadi Wakil Ketua Panitia Kongres Pemuda Indonesia yang Pertama pada tahun 1926.Sumarto menyambut gembira niat Sugondo Joyopuspito dan kawan-kawan untuk mengadakan Kongres Pemuda Indonesia ke-2.Ia memberitahukan bahwa M. Tabrani dan Jamaluddin sejak akhir tahun 1926 telah pergi meninggalkan tanah air. Kedua tokoh itu melanjutkan studi kewarawanan di Berlin, Jerman. Ia menceritakan pengalamannya tatkala Kongres Pemuda Indonesia yang Pertama dilangsungkan pada tahun 1926. Ia membentangkan siasat cerdik M. Tabrani yang telah berhasil mengelabui Komisaris Kepala Visbeen.

            Usaha kelompok Sugondo Joyopuspito yang tak kenal lelah selama berbulan-bulan itu membuahkan hasil nyata pada pertengahan tahun 1928.Dalam bulan Juni 1928 mereka berhasil menghimpun delapan organisasi pemuda dan satu organisasi pelajar untuk bermusyawarah. Kedelapan organisasi pemuda itu ialah : Jong Java, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond, pemuda Kaum Betawi, Pemuda Indonesia. Dan satu organisasi mahasiswa, yakni PPPI.
            Musyawarah itu mufakat untuk membentuk Panitia Kongres Pemuda ke-2.Tugas panitia itu ialah mempersiapkan dan melaksanakan penyelenggaraan Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2 dalam tahun 1928. Susunan Panitia Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2 adalah sebagai berikut :
Ketua              : Sugondo Joyopuspito mewakili PPPI
Wakil Ketua   : Joko Marsaid mewakili Jong Java
Sekretaris      : Muhammad Yamin mewakili Jong Sumatranen Bond
Bendahara     : Amir Syarifudin mewakili Jong Bataks Bond
Pembantu I     : Johan M. Cai mewakili Jong Islamieten Bond
Pembantu II    : Kocosungkono mewakili Pemuda Indonesia
Pembantu III   : Senduk mewakili jong Celebes
Pembantu IV  : J. Leimena mewakili Jong Ambon
Pembantu V   : Rohyani mewakili Pemuda Kaum Betawi
            Musyawarah juga mufakat untuk menunjukkan beberapa orang tokh menjadi penasehat-penasehat Panitia Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2. Mereka itu ialah: Sunario, S.H., Surtono, S.H., M. Nasif, S.H., dan Arnold Mononutu.
                “Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2 akan dilaksanakan mulai dari tanggal 27 Oktober 1928 sampai dengan 28 Oktober 1928. Selama dua hari itu akan dilakukan tiga kali rapat umum. Yang dimaksudkan dengan rapat umum, ialah rapat yang diikuti oleh segenap peserta Kongres.Rapat umum itu berupa ceramah-ceramah, disusul oleh pandangan umum dari peserta kongres.”

NYARIS BATAL

            Sejak awal bulan Oktober 1928, kegiatan Panitia Kongres kian meningkat.Berkali-kali mereka bermusyawarah selama berjam-jam.Tak jarang, persidangan Panitia Kongres berlangsung sampai larut malam.Persoalan demi persoalan berhasil diatasi dengan mufakatan.Soal jadwal pelaksanaan Kongres Pemuda Indonesia ke-2, dimufakati tanggalnya 28 Oktober 1928.Soal ceramah-ceramah dimufakati untuk dibagi menjadi empat pembicaraan.
1.    Tentang persatuan dan kebangsaan Indonesia
2.    Tentang pendidikan dan kebangsaan Indonesia
3.    Tentang pergerakan pandu Indonesia
4.    Tentang pergerakan pemuda Indonesia dan pergerakan pemuda di luar negeri.
Sesudah kesemuanya tersusun rapi, Ketua paniti kongres pergi ke Markas Besar Kepolisian Hindia Belanda unutk mengajukan permohonan izin pelaksanaan Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2.Tetapi, pihak Kepolisian Hindia Belanda menolak untuk memberi izin.Alasannya, dalam daftar acara Kongres Pemuda Indonesia ke-2 terdapat acara pawai pandu Indonesia.Meski gagal memperoleh izin dari Kepolisian Hindia Belanda, Sugando Joyopuspito dan kawan-kawan enggan mengumumkan pembatalan pelaksanaan Kongres Pemuda Indonesia ke-2 itu.Sugondo Joyopuspito dan kawan-kawan segera mengadakan perundingan dengan para penasehat Panitia Kongres.
Para penasehat Panitia Kongres berkesimpulan, bahwa soal izin pelaksanaan Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2 tidak mungkin dirundingkan lagi dengan pihak Kepolisian Hindia Belanda. Oleh karena itu, para penasehat Panitia Kongres akan secepatnya berusaha menghubungi pembesar Pemerintah Hindia Belanda yang berwenang memberi perintah kepada Kepolisian Hindia Belanda. Pembesar itu bernama Kiewiet de Jonge.Yang ditugasi untuk menghubungi pembesar Pemerintah Hindia Belanda itu adalah Sunario SH., didampingi oleh Arnold mononutu.Kedua tokoh itu segera pergi menghadap pembesar Pemerintah Hindia Belanda. Yang banyak berbicara dengannya adalah Sunario SH. Ia dengan ramah namun tegas meminta kepada pembesar Pemerintah Hindia Belanda itu agar diberi izin melaksanakan Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2, meskipun pawai pandu dilarang. Akhirnya Kiewiet de Jonge memberi perintah kepada Kepala Kepolisian Hindia Belanda untuk mengeluarkan surat izin pelaksanaan Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2. Tetapi pawai pandu Indonesia tetap dilarang.
Menjelang pukul 17.30 tanggal 27 Oktober 1928, para tamu berdatangan ke gedung Persatuan Pemuda Katolik. Organisasi Budi Utomo, Sekar Rukun, Partai Serikat Islam mengirimutusan. PAPI juga mengirim utusan.Pemerintah hindia Belanda mengutus dua orang pembesar untuk menghadiri Pembukaan Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2.Lembaga Dewan Rakyat Hindia Belanda yang disebut Volksraad juga mengutus dua orang anggotanya menghadiri pembukaan Kongres Pemuda Indonesia ke-2.Kepolisian Hindia Belanda yang melakukan pengawasan ketat terhadap Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2 dipimpin oleh seorang perwira tinggi berpangkat Komisaris Polisi. Dari kalangan wartawan Indonesia yang hadir antara lain Saerun dan Wage Rudolf Supratman.
Tepat pada jam 17.30, Ketua Panitia Kongres dengan resmi membuka Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2. Kemudian dibacakan beberapa sambutan tertulis, antara lain amanat dari Perhimpunan Indonesia yang berkedudukan di negeri Belanda.
Acara dilanjutkan dengan pidato pembukaan oleh Sugondo Joyopuspito selaku Ketua Panitia Kongres.Ia menghargai M. Tabrani dan kawan-kawan yang telah berhasil menyelenggarakan kongres Pemuda Indonesia yang Pertamapada tahun 1926.
Ia mengakhiri pidatonya yang menggebu-gebu dengan seruan sebagai berikut :
“Perangilah pengaruh becerai-berai.Dan majulah terus ke arah Indonesia bersatu yang kita cintai.”
Dalam rapat umum Kongres Pemuda Indonesia ke-2 tanggal 27 Oktober 1928, Muhammad Yamin memberi ceramah Tentang Persatuan dan kebangsaan Indonesia.
Persidangan pada tanggal 27 Oktober 1928 sempat terhenti dua kali.Mula-mula Komisaris Polisi menegur Ketua Panitia Kongres karena ada pembicaraan kemerdekaan.Sesudah terhenti sejenak, Ketua Panitia Kongres melanjutkan persidangan. Akan tetapi tak lama kemudian Komisaris Polisi untuk kedua kalinya menegur ketua panitia Kongres, karena ada pembicaraan yang menganjurkan agar segenap putra-putri Indonesia bekerja lebih keras supaya tanah air Indonesia dapat lebih cepat menjadi suatu Negara seperti Inggris dan Jepang. Akibat ulah Komisaris Polisi itu, suasana persidangan menjadi panas.
Rapat umum Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2 pada tanggal 27 Oktober 1928 berlangsung terus sampai menjelang tengah malam.Tepuk tangan gemuruh menandai berakhirnya rapat umum.Ketua panitia kongres dan banyak para peserta kongres, menyalami Sartono SH>, yang telah menyelamatkan kelangsungan Kongres Pemuda Indonesia Ke-2 pada hari pertama itu.

SATU TUMPAH DARAH, TANAH INDONESIA
SATU BANGSA, BANGSA INDONESIA
BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA

Hari kedua Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2, diisi dengan rapat umum yang berbeda-beda pokok pembicaraannya.Rapat umum pada pagi dan siang hari pokok pembicaraannya adalah tentang pendidikan dan kebangsaan Indonesia.Para penceramah berjumlah empat orang.Yakni Nona Purnomowulan, S. Mangunsarkoro, Joyosarwono dan Ki Hajar Dewantara.
Rapat umum padaa malam hari tanggal 28 Oktober akan dimulai  pada pukul 19.30. Namun sejak pukul 19.30 komplek gedung Langen Siswa telah dipadati pengunjung.Pelataran Gedung Langen Siswa dipenuhi puluhan orang pandu.Sebagian besar adalah para pandu KBI.
Tepat pada pukul19.30, Sugondo Joyopuspito membuka persidangan.Kesembilan orang anggota panitia kongres duduk berdampingan di ujung aula.Sugondo Joyopuspito duduk di tengah rekan-rekannya. Sugondo Joyopuspito mempersilahkan T. Ramelan untuk menguraikan tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh pandu  Indonesia. Tujuannya ialah mencapai keluhuran budi,membina watak satria, berbakti kepada orang tua, masyarakat, serta berbakti kepada nusa dan bangsa.
Pada tahun 1926, naskah rumusan putusan Kongres Pemuda Indonesia yang pertama oleh Muhammad Yamin disebut IKRAR PEMUDA itu, berbunyi sebagai berikut (tertulis dengan ejaan lama. J = y, dj = j, oe = u) :
Pertama : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE  BERTOMPAH DARAH YANG SATOE, TANAH iNDONESIA
Kedoea : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENDJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA MALAJOE
Kalimat baris ketiga naskah rumusan putusan Kongres Pemuda Indonesia yang pertama itu, diubah sedikit oleh Muhammad Yamin.Pengubahan itu, sesuai dengan usul ketua Panitia Kongres Pemuda Indonesia yang Pertama, M. Tabrani, pada tanggal 2 Mei 1926.Yaitu, mengubah BAHASA MALAJOE menjadi BAHASA INDONESIA.
Poetoesan Congres Pemoeda-Pemoeda Indonesia
            Kerapatan pemoeda-pemoeda Indonesia diadakan oleh perkoempoelan-perkoempoelan pemoeda Indonesia jang berdasarkan kebangsaan dengan namanya Jong Java, Jong Sumatra (Pemoeda Sumatra), Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Islamieten Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi dan Perhimpunan Peladjar-Peladjar Indonesia.
            Sesoedahnja mendengar pidato-pidato pembitjaraan jang diadakan didalam kerapatan tadi;
            Sesodahnja menimbang segala isi-isi pidato-pidato dan pembitjaraan ini,

            Kerapatan laloe mengambil kepoetoesan:
Pertama :KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOMPAH DARAH YANG SATOE, TANAH iNDONESIA
Kedoea :KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga: KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENDJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
            Setelah mendengar poetoesan ini, kerapatan mengeloearkan kejakinan azas ini wajib dipakai oleh segala perkoempoelan kebangsaan Indonesia.
            Mengeloearkan kejakinan persatoean Indonesia diperkoeat dengan memperhatikan dasar persatoeannja:
KEMAOEAN
SEDJARAH
BAHASA
KOEKOEM ADAT
PENDIDIKAN DAN KEPANDOEAN
Dan mengeloerkan penghargaan, soepaja poetoesan ini disiarkan dalam segala soerat kabar dan dibajatkan dimoeka rapat perkoempoelan-perkoempoelan.
            Sebagian peserta kongres serempak berseru, “Setuju!” sebagian lagi berseru, “Akur!”
            Mendengar persetujuan segenap peserta kongres itu, Sugondo Joyopuspito sambil tersenyum lebar mantap mengetukkan palu pimpinan siding. Berarti, POETOESAN CONGRES PEMOEDA-PEMOEDA INDONESIA telah disahkan.
            Waktu telah menunjukkan menjelang tengah malam ketika Ketua Panitia Kongres mengetukkan palu pimpinan siding. Tanda bahwa Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2 resmi ditutup.
            Soegoondo Joyopuspito berdiri, dan dengan perasaan terharu menyalami rekan-rekannya satu demi satu.Terharu sebab Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2 telah berakhir dengan selamat.Lebih dari itu, Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2 berhasil mencapai sasarannya yaitu meletakkan dasar persatuan nasional.
            Hal itu tercermin dalam ketiga baris kalimat POETOESAN CONGRES PEMOEDA-PEMOEDA INDONESIA:
Pertama         : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOMPAH DARAH YANG SATOE, TANAH iNDONESIA
Kedoea          : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga             : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENDJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Ketiga baris kalimat POETOESAN CONGRES PEMOEDA-PEMOEDA INDONESIA ini dalam sejarah Indonesia lebih dikenal sebagai SUMPAH PEMUDA.