Selasa, 01 Mei 2012

Mempersiapkan Kongres Pemuda Indonesia Pertama

MEMPERSIAPKAN KONGRES PEMUDA INDONESIA PERTAMA

         Pada tahun 1925, Perhimpunan Indonesia menerbitkan majalah, yang diberi nama “Indonesia Merdeka”. Perhimpunan Indonesia, adalah suatu organisasi masyarakat Indonesia yang berada di negeri Belanda.Para pemimpin Perhimpunan Indonesia, adalah para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di negeri Belanda.Dalam nomer perdana majalah “Indonesia Merdeka”, yang terbit bulan Februari 1925, dimuat tulisan tentang tujuan gerakan Perhimpunan Indonesia. Pengurus Perhimpunan Indonesia,mengirimkan sejumlah majalah “Indonesia Merdeka” ke tanah air. Dikirim ke alamat-alamat pelbagi organisasi pemuda di tanah air.Pada masa itu, di Indonesia sudah ada pelbagi organisasi pemuda.Kegiatan-kegiatan mereka, mengutamakan kepentingan daerah atau suku masing-masing.Namun, di antara para pemimpin pelbagai organisasi pemuda itu, sudah ada yang telah mempunyai gagasan mulia.Yakni, gagasan untuk merintis persatuan nasional di kalangan Angkatan Muda Indonesia.Untuk selanjutnya, merintis persatuan nasional di kalangan seluruh masyarakat.
            Rupanya isi majalah “Indonesia Merdeka”, makin mendorong semangat mereka, untuk bersama-sama berusaha mewujudkan gagasan yang mulia itu.Maka, mereka lalu melakukan pertemua-pertemuan.Akhirnya mereka mufakat, untuk menyelenggarakan semacam muktamar pemuda Indonesia. Dalam muktamar itu, akan dibahas pelbagai segi untuk merintis usaha ke arah persatuan nasional. Dimufakati pula, muktamar pemuda Indonesia yang akan mereka selenggarakan itu, disebut Kongres Pemuda Indonesia Pertama.
            Pada tanggal 15 November 1925, mereka berhasil membentuk Panitia Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Susunannya adala sebagai berikut :
Ketua              : M. Tabrani
Wakil Ketua   : Sumarto
Sekretaris      : Jamaludin
Bendahara     : Suwarso
Pembantu      : Bahder Johan, Yan Toule Soulehuwiy, Paul Pinantoan, Hamami, Sarabini, Sanusi Pane.
Tujuan Kongres Pemuda Indonesia Pertama adalah : Menggugah semangat kerja sama antar organisasi-organisasi pemuda di tanah ai, untuk meletakkan dasar persatuan Indonesia. Panitia Kongres Pemuda Indonesia Pertama itu, mandiri.Artinya, semua kegiatannya dilakukan atas prakarsa dan atas tanggung jawab Panitia Kongres.Tidak atas prakarsa dan tidak atas tanggung jawab sesuatu organisasi penmuda. Meraka yang duduk dalam Panitia Kongres pun, bekerja secara sukarela. Satu sen pun, mereka tidak menerima imbalan. Selama berbulan-bulan, merka bekerja keras tanpa mengenal waktu pagi, siang, sore, dan malam hari.Semangat pengabdian tanpa pamrih dan semangat gotong royong itulah yang memungkinkan diselenggarakannya Kongres Pemuda Indonesia Pertama.
            Pada awal tahun 1926, Panitia Kongres sudah berhasil menyusun jadwal acara.Rangkaian ceramah-ceramah merupakan acara pokok siding-sidang umum Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Enam orang pemuda pemudi akan tampil sebagai penceramah. Mereka itu ialah : Sumarto,Bahder Johan, Muh. Yamin, Jaksodipura, Paul Pinontoan, dan Nona Stien Adam.

Rangkaian ceramah-ceramah terdiri atas tiga pokok pembicaraan :
1.    Tentang persatuan bangsa Indonesia
2.    Tentang kedudukan dan peranan wanita dalam masyarakat Indonesia.
3.    Tentang peranan agama dalam gerakan persatuan bangsa Indonesia.
Panitia Kongres juga membentuk suatu Panitia Perumus. Tugas Panitia Perumus, ialah mempersiapkan naskah rumusan putusan Kongres Pemuda Indonesia Pertama.
            Jadwal pelaksanaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama ditetapkan, mulai dari tanggal 30 April 192 sampai dengan tanggal 2 Mei 1926. Berkat kerja sama dan kerja keras Panitia Kongres, dalam bulan maret 1926, hamper semua masalah teknis dan administrative untuk pelaksanaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama, telah diatasi. Namun, masih ada satu masalah yang belum sempat diselesaikan. Yakni, surat izin kepolisian Hindia Belanda.
            Pada masa itu, semua kegiatan yang diselenggarakan oleh pemuda Indonesia di ibu kota Hindia Belanda, harus memperoleh izin lebih dulu dari pembesar Kepolisian Hindia Belanda. Pembesar yang berwenang itu, berpangkat Komisaris Kepala.Seorang Belanda totok, bernama Visbeen. Ibu kota Hindia Belanda, adalah Jakarta. Oleh Belanda, Jakarta diganti menjadi Batavia. Karena saat pelaksanaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama sudah makin mendekat, M. Tabrani didesak oleh rekan-rekannya agar mereka mengurus surat izin itu. Sebagai Ketua Panitia, tentu saja M. Tabrani tak dapat menolak desakan rekan-rekannya. Maka, segera pula ia berangkat menuju ke Markas Besar Kepolisian Hindia Belanda. Ia dibekali setumpuk dokumen, untuk memenuhi syarat-syarat permohonan izin guna melaksanakan Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Ketika tiba di tempat yang dituju, M. Tabrani terkejut karena bertemu dengan beberapa teman sekolahnya dulu.Kepada ketiga orang teman sekolahnya itu, M. Tabrani mengemukakan maksudnya untuk bertemu dengan Visbeen.Ia juga mengemukakan secara ringkas, apa maksud tujuan menyelenggarakan Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Setelah mendengar apa yang dikemukakan M. Tabrani, ketiga orang tadi serentak menyatakan akan memberikan bantuannya.
            Pada hari yang ditetapkan, M. Tabrani dating berkunjung lagi ke kantor Visbeen. Di sna ia disambut dengan senyum rama oleh Abdulrahman dan teman-teman lainnya. Abdulrahman membisiki M. Tabrani, “Kami sudah menyarankan kepada Visbeen, agar mengeluarkan surat izin.” M. Tabrani tersenyum lalu berkata lirih, “Terima Kasih”.

PELAKSANAAN KONGRES PEMUDA INDONESIA YANG PERTAMA

          Beberapa hari sebelum pembukaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama, M. Tabrani didatangi oleh seorang pemuda bertuduh jangkung.Ia bernama Wage Rudolf Supratman. Pekerjaan, wartawan surat kabar “Sin Po”. Suatu surat kabar berbahasa Melayu yang diterbitkan oleh orang-orang keturunan Cina. Surat kabar itu sering memuat karangan-karangan, berita-berita yang memihak kepada kegiatan-kegiatan angkatan muda Indonesia.Itulah sebabnya, M. Tabrani merasa senang dikunjungi oleh wartawan “Sin Po”.Ia memberi semua keterangan mengenai Kongres Pemuda Indonesia Pertama yang diminta oleh Wage Rudolf Supratman. Kedua orang wartawan itu bersepakat akan menyiarkan berita-berita Kongres, pada hari pembukaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama, tanggal 30 April 1926. Wage Rudolf Supratman akan menyiarkan lewat surat kabar “Hindia Baru”. Sebagai Ketua Panitia, M. Tabrani memberiakan kesempatan seluas-luasnya kepada Wage Rudolf Supratman untuk dapat meliput peristiwa bersejarah itu. Tentu saja Wage Rudolf Supratman sangat berterima kasih kepada M. Tabrani.Ia bejanji akan mengikuti dari dekat berlangsung Kongres Pemuda Indonesia pertama,
            Tepat pada tanggal 30 April 1926, dilaksanakan pembukaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama.Semua organisasi  pemuda mengirimkan wakil-wakil merekauntuk menghadirinya. Karena para tamu dan para peserta yang diundang sangat terbatas, maka jumlah hadirin pada pembukaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama tidaklah banyak.

            Tatkala Ketua Panitia mulai mengucapkan pidato pembukaan Kongres Pemuda Indonesia Pertama, Nampak Abdulrahman mulai mengajak Visbeen berbincang-bincang.Kemudian Ahmad mangkudilalaga dan Iming Sastradinata ikut berbincang-bincang dengan Visbeen.
            Sementara itu, para hadirin terpukau oleh pidato Ketua Panitis. Betapa tidak, ia mengawali pidatonya dengan kalimat-kalimat sebagai berikut :
            “Putra-putri Indonesia dan Anda semua yang hadir di sini. Atas nama Panitia Kongres Pemuda Indonesia yang Pertama, saya mengucapkan selamat datang. Saya sampaikan ucapan selamat dating kepada Anda semua sebagai pejuang-pejuang kemerdekaan Tanah Air dan Bangsa Kita.Dan sebagai pribadi-pribadi yang memperlihatkan perhatiannya kepada perjuangan nasional kita.Anda semua telah meringankan langkah mengunjungi Kongres Pemuda Indonesia yang pertama ini.Sungguh suatu perbuatan yang patut dihargai.Kongres ini adalah suatu tongkak sejarah dalam sejarah pergerakan pemuda kita.
            Kemudian Ketua Panitia melanjutkan pidatonya dengan ucapan-ucapan sebagai berikut :
            “Kita semua, orang-orang Jawa, Sumatra, Minahasa, Ambon dan lain-lain, oleh sejarah ditempa menjadi insan-insan yang harus bersatu padu, jika kita ingin mencapai tujuan kita bersama. Dan itu adalah, kemerdekaan Indonesia, Ibu Pertiwi Tercinta.”
            “Mengakhiri pidato saya, amat saya harapkan, supaya kongres ini menyuarakan generasi Indonesia sekarang.Yang nantinya terpanggil untuk bekerja, berkarya, berjuang dan mati untuk kemerdekaan Nusa dan Bangsa kita.Rakyat di seluruh kepulauan Indonesia bersatulah!”
            Seusai Ketua Panitia mengucapkan pidatonya, para hadirin serempak menyambut dengan tepuk tangan riuh.Banyak di antara hadirin yang saling berbisik-bisik.Mereka memuji isi pidato Ketua Panitia. Apalagi pidato itu diucapkan di depan hidung Komisaris Kepala Polisi Hindia Belanda.
            Pada acara persidangan berikutnya, Sumarto tampil untuk menguraikan “Gagasan tentang Indonesia Bersatu”. Intisari pidato Sumarto sama dengan yang dikemukakan oleh M. Tabrani. Yaitu, merintis atau menggugah semangat persatuan bangsa Indonesia.
            Jika M. Tabrani menutup pidatonya dengan seruan agar bangsa Indonesia di seluruh Nusantara bersatu, Sumarto berkata sebagai berikut :
            “Jika pada akhir pidato saya ini dinyatakan kepadaku, apa kemauanku dan apa yang sepenuhnya terkandung dalam hatiku, maka jawabku adalah ini : Pemuda Indonesia, bangkitlah menuju persatuan, bangkitlah menuju Indonesia merdeka!”
            Sesaat setelah Sumarto mengakhiri pidatonya, para hadirin serempak menyatakan pujiannya dengan tepuk tangan riuh.Pada saat hadirin bertepuk tangan riuh, Visbeen tampak santai berbincang-bincang dengan seorang pemuda tampan dan seorang pemudi ayu.Ia juga tidak memperhatikan ucapan-ucapan para hadirin yang dengan bersemangat menanggapi pidato Sumarto. Persidangan berlangsung lancar.Visbeen tidak pernah mengajukan teguran.Ibarat seorang macan, Visbeen telah masuk ke dalam jebakan tersamar yang dipasang oleh M. Tabarani.
            Persidangan terakhir Kongres Pemuda Indonesia Pertama, dilangsungkan pada pagi dan siang hari tanggal 2 Mei 1926.Persidangan terakhir itu, terdiri atas beberapa acara.Adapun acara pertama berupa sidang terbuka yang diisi dengan ceramah.Pokok nasional”.Acara kedua, berupa sidang tertutup, yang hanya mempersiapkan naskah rumusan putusan Kongres Pemuda Indonesia Pertama.Acara ketiga, berupa sidang terbuka. Dalam siding terbuka itu akan dikeluarkan pengumuman-pengumuman. Diakhiri dengan pidato penutupan Kongres Pemuda Indonesia Pertama, oleh Ketua Panitia Kongres.
            Acara pertama dimulai tepat pada pukul 07.30.Yang tampil sebagai penceramah, ialah Paul Pinontoan.Paul Pinantoan mengemukakan, bahwa bangsa Indonesia yang terdiri atas ratusan suku itu, pada hakekatnya mempunyai ikatan kekerabatan.Itulah sebabnya, mereka memperlihatkan tenggang rasa dalam kehidupan beragama.Oleh karenanya perbedaan agama bukanlah penghalang gerakan persatuan nasional. Mengenai peranan agama dalam gerakan persatuan nasional Paul Pinantoan berkata sebagai berikut :
            “Tugas agama ialah membentuk tenaga-tenaga tangguh dan tampa pamrih, untuk gerakan persatuan Indonesia kita.”

PENUTUPAN KONGRES PEMUDA INDONESIA PERTAMA

            Persidangan yang ditunda, dimulai lagi pada tengah hari tanggal 2 Mei 1926.Persidangan itu merupakan kegiatan terakhir Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Persidangan terakhir itu akan diisi dengan pengumuman dan pidato penutupan oleh Ketua Panitia Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Tak lama kemudian,Jamaluddin selaku Sekretaris Panitia Kongres membacakan pengumuman. Diumumkan bahwa Kongres Pemuda Indonesia Pertama merupakan cetusan kebulatan tekad angkatan muda dalam merintis terwujudnya persatuan bangsa Indonesia. Bahwa Kongres Pemuda Indonesia Pertama menjadi titik tolak untuk mengadakan Kongres Pemuda Indonesia berikutnya pada tahun-tahun yang akan datang. Dalam tahun 1926 itu juga akan diterbitkan Laporan Kongres Pemuda Indonesia Pertama.
            Setelah Kongres Pemuda Indonesia Pertama dinyatakan telah berakhir oleh Ketua Panitia Kongres, ternyata banyak hadirin yang tidak segera beranjak pergi.Mereka menyempatkan diri untuk menyalami, berjabat tangan dengan M. Tabrani dan rekan-rekannya.

MEMPERSIAPKAN KONGRES PEMUDA INDONESIA II

            Dalam bulan September 1926, para mahasiswa Indonesia di Batavia (sekarang Jakarta), mendirikan suatu organisasi kemahasiswaan.Nama organisasi kemahasiswaan itu adalah Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia. Disingkat PPPI. Pada masa itu istilah pelajar berarti mahasiswa.PPPI berusaha membina jiwa kebangsaan para mahasiswa, agar kelak menjadi pemimpin-pemimpin rakyat dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.Oleh karena itu, PPPI berupaya mempelopori kegiatan dalam masyarakat yang mendorong persatuan bangsa untuk makin menumbuhkan semangat perjuangan kemerdekaan.
            Dalam tahun 1927 Sugondo Joyopuspito, pemimpin PPPI, berhasrat untuk melanjutkan kegiatan yang telah dirintis ole M. Tabrani dan kawan-kawan.Apabila M. Tabrani dan kawan-kawan telah berhasil menyelenggarakan Kongres Pemuda Indonesia Pertama, Sugondo Joyopuspito berhasrat untuk dapat menyelenggarakan Kongres Pemuda Indonesia ke-2.Sugondo Joyopuspito adalah seorang mahasiswa di Sekolah Tinggi Hukum. Dalam tahun 1927 ia berumur dua puluh tahun. Untuk dapat mewujudkan hasrat itu, ia bekerja sama dengan beberapa orang sahabatnya. Mereka itu ialah: Sigit, Suwiryo, Gularso, Darwis.
            Setelah berulang kali mengadakan pertemuan-pertemuan selama beberapa bulan, kelompok Sugondo Joyopuspito itu mencapai kata sepakat.Mereka sepakat untuk berusaha mengadakan Kongres Pemuda Indonesia ke-2 dalam tahun 1928.Disepakati pula, Kongres Pemuda Indonesia ke-2 diselenggarakan oleh suatu Panitia yang mewakili berbagai organisasi pemuda.
            Unuk memperoleh dukungan lebih luas, Sugondo Joyopuspito segera menghubungi tokoh-tokoh sarjana Indonesia yang pernah mempin organisasi Perhimpunan Indonesia d Negeri Belanda. Tokoh-tokoh sarana itu, antara lain ialah Sartono dan Sunario. Kedua orang itu sesudah memperoleh gelar Sarjana Hukum kembali ke tanah air.Di tanah air mereka ikut memimpin pergerakan kebangsaan.Sunario juga giat memimpin organisasi kepanduan yang berasaskan kebangsaan.Ia telah berhasil mempersatukan sejumlah organisasi kepanduan yang berasaskan kebangsaan. Persatuan organisasi-organisasi kepanduan yang dipimpin oleh Sunario itu bernama “Persaudaraan Antar Pandu Indonesia”.Disingkat PAPI. Pada masa kini istilah pandu telah diganti dengan istilah pramuka.
            Sartono dan Sunario memberi dukungan penuh kepada gagasan kelompok Sugondo Joyopuspito.Kedua tokoh itu bahkan menyatakan kesediaannay untuk menjadi Penasehat Hukum kelompok Sugondo Joyopuspito.
            Sesudah memperoleh dukungn dari kedua Sarjana Hukum itu, Sugondo Joyopuspito bergegas pergi menghubungi Sumarto.Tokoh yang menjadi Wakil Ketua Panitia Kongres Pemuda Indonesia yang Pertama pada tahun 1926.Sumarto menyambut gembira niat Sugondo Joyopuspito dan kawan-kawan untuk mengadakan Kongres Pemuda Indonesia ke-2.Ia memberitahukan bahwa M. Tabrani dan Jamaluddin sejak akhir tahun 1926 telah pergi meninggalkan tanah air. Kedua tokoh itu melanjutkan studi kewarawanan di Berlin, Jerman. Ia menceritakan pengalamannya tatkala Kongres Pemuda Indonesia yang Pertama dilangsungkan pada tahun 1926. Ia membentangkan siasat cerdik M. Tabrani yang telah berhasil mengelabui Komisaris Kepala Visbeen.

            Usaha kelompok Sugondo Joyopuspito yang tak kenal lelah selama berbulan-bulan itu membuahkan hasil nyata pada pertengahan tahun 1928.Dalam bulan Juni 1928 mereka berhasil menghimpun delapan organisasi pemuda dan satu organisasi pelajar untuk bermusyawarah. Kedelapan organisasi pemuda itu ialah : Jong Java, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond, pemuda Kaum Betawi, Pemuda Indonesia. Dan satu organisasi mahasiswa, yakni PPPI.
            Musyawarah itu mufakat untuk membentuk Panitia Kongres Pemuda ke-2.Tugas panitia itu ialah mempersiapkan dan melaksanakan penyelenggaraan Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2 dalam tahun 1928. Susunan Panitia Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2 adalah sebagai berikut :
Ketua              : Sugondo Joyopuspito mewakili PPPI
Wakil Ketua   : Joko Marsaid mewakili Jong Java
Sekretaris      : Muhammad Yamin mewakili Jong Sumatranen Bond
Bendahara     : Amir Syarifudin mewakili Jong Bataks Bond
Pembantu I     : Johan M. Cai mewakili Jong Islamieten Bond
Pembantu II    : Kocosungkono mewakili Pemuda Indonesia
Pembantu III   : Senduk mewakili jong Celebes
Pembantu IV  : J. Leimena mewakili Jong Ambon
Pembantu V   : Rohyani mewakili Pemuda Kaum Betawi
            Musyawarah juga mufakat untuk menunjukkan beberapa orang tokh menjadi penasehat-penasehat Panitia Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2. Mereka itu ialah: Sunario, S.H., Surtono, S.H., M. Nasif, S.H., dan Arnold Mononutu.
                “Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2 akan dilaksanakan mulai dari tanggal 27 Oktober 1928 sampai dengan 28 Oktober 1928. Selama dua hari itu akan dilakukan tiga kali rapat umum. Yang dimaksudkan dengan rapat umum, ialah rapat yang diikuti oleh segenap peserta Kongres.Rapat umum itu berupa ceramah-ceramah, disusul oleh pandangan umum dari peserta kongres.”

NYARIS BATAL

            Sejak awal bulan Oktober 1928, kegiatan Panitia Kongres kian meningkat.Berkali-kali mereka bermusyawarah selama berjam-jam.Tak jarang, persidangan Panitia Kongres berlangsung sampai larut malam.Persoalan demi persoalan berhasil diatasi dengan mufakatan.Soal jadwal pelaksanaan Kongres Pemuda Indonesia ke-2, dimufakati tanggalnya 28 Oktober 1928.Soal ceramah-ceramah dimufakati untuk dibagi menjadi empat pembicaraan.
1.    Tentang persatuan dan kebangsaan Indonesia
2.    Tentang pendidikan dan kebangsaan Indonesia
3.    Tentang pergerakan pandu Indonesia
4.    Tentang pergerakan pemuda Indonesia dan pergerakan pemuda di luar negeri.
Sesudah kesemuanya tersusun rapi, Ketua paniti kongres pergi ke Markas Besar Kepolisian Hindia Belanda unutk mengajukan permohonan izin pelaksanaan Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2.Tetapi, pihak Kepolisian Hindia Belanda menolak untuk memberi izin.Alasannya, dalam daftar acara Kongres Pemuda Indonesia ke-2 terdapat acara pawai pandu Indonesia.Meski gagal memperoleh izin dari Kepolisian Hindia Belanda, Sugando Joyopuspito dan kawan-kawan enggan mengumumkan pembatalan pelaksanaan Kongres Pemuda Indonesia ke-2 itu.Sugondo Joyopuspito dan kawan-kawan segera mengadakan perundingan dengan para penasehat Panitia Kongres.
Para penasehat Panitia Kongres berkesimpulan, bahwa soal izin pelaksanaan Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2 tidak mungkin dirundingkan lagi dengan pihak Kepolisian Hindia Belanda. Oleh karena itu, para penasehat Panitia Kongres akan secepatnya berusaha menghubungi pembesar Pemerintah Hindia Belanda yang berwenang memberi perintah kepada Kepolisian Hindia Belanda. Pembesar itu bernama Kiewiet de Jonge.Yang ditugasi untuk menghubungi pembesar Pemerintah Hindia Belanda itu adalah Sunario SH., didampingi oleh Arnold mononutu.Kedua tokoh itu segera pergi menghadap pembesar Pemerintah Hindia Belanda. Yang banyak berbicara dengannya adalah Sunario SH. Ia dengan ramah namun tegas meminta kepada pembesar Pemerintah Hindia Belanda itu agar diberi izin melaksanakan Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2, meskipun pawai pandu dilarang. Akhirnya Kiewiet de Jonge memberi perintah kepada Kepala Kepolisian Hindia Belanda untuk mengeluarkan surat izin pelaksanaan Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2. Tetapi pawai pandu Indonesia tetap dilarang.
Menjelang pukul 17.30 tanggal 27 Oktober 1928, para tamu berdatangan ke gedung Persatuan Pemuda Katolik. Organisasi Budi Utomo, Sekar Rukun, Partai Serikat Islam mengirimutusan. PAPI juga mengirim utusan.Pemerintah hindia Belanda mengutus dua orang pembesar untuk menghadiri Pembukaan Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2.Lembaga Dewan Rakyat Hindia Belanda yang disebut Volksraad juga mengutus dua orang anggotanya menghadiri pembukaan Kongres Pemuda Indonesia ke-2.Kepolisian Hindia Belanda yang melakukan pengawasan ketat terhadap Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2 dipimpin oleh seorang perwira tinggi berpangkat Komisaris Polisi. Dari kalangan wartawan Indonesia yang hadir antara lain Saerun dan Wage Rudolf Supratman.
Tepat pada jam 17.30, Ketua Panitia Kongres dengan resmi membuka Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2. Kemudian dibacakan beberapa sambutan tertulis, antara lain amanat dari Perhimpunan Indonesia yang berkedudukan di negeri Belanda.
Acara dilanjutkan dengan pidato pembukaan oleh Sugondo Joyopuspito selaku Ketua Panitia Kongres.Ia menghargai M. Tabrani dan kawan-kawan yang telah berhasil menyelenggarakan kongres Pemuda Indonesia yang Pertamapada tahun 1926.
Ia mengakhiri pidatonya yang menggebu-gebu dengan seruan sebagai berikut :
“Perangilah pengaruh becerai-berai.Dan majulah terus ke arah Indonesia bersatu yang kita cintai.”
Dalam rapat umum Kongres Pemuda Indonesia ke-2 tanggal 27 Oktober 1928, Muhammad Yamin memberi ceramah Tentang Persatuan dan kebangsaan Indonesia.
Persidangan pada tanggal 27 Oktober 1928 sempat terhenti dua kali.Mula-mula Komisaris Polisi menegur Ketua Panitia Kongres karena ada pembicaraan kemerdekaan.Sesudah terhenti sejenak, Ketua Panitia Kongres melanjutkan persidangan. Akan tetapi tak lama kemudian Komisaris Polisi untuk kedua kalinya menegur ketua panitia Kongres, karena ada pembicaraan yang menganjurkan agar segenap putra-putri Indonesia bekerja lebih keras supaya tanah air Indonesia dapat lebih cepat menjadi suatu Negara seperti Inggris dan Jepang. Akibat ulah Komisaris Polisi itu, suasana persidangan menjadi panas.
Rapat umum Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2 pada tanggal 27 Oktober 1928 berlangsung terus sampai menjelang tengah malam.Tepuk tangan gemuruh menandai berakhirnya rapat umum.Ketua panitia kongres dan banyak para peserta kongres, menyalami Sartono SH>, yang telah menyelamatkan kelangsungan Kongres Pemuda Indonesia Ke-2 pada hari pertama itu.

SATU TUMPAH DARAH, TANAH INDONESIA
SATU BANGSA, BANGSA INDONESIA
BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA

Hari kedua Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2, diisi dengan rapat umum yang berbeda-beda pokok pembicaraannya.Rapat umum pada pagi dan siang hari pokok pembicaraannya adalah tentang pendidikan dan kebangsaan Indonesia.Para penceramah berjumlah empat orang.Yakni Nona Purnomowulan, S. Mangunsarkoro, Joyosarwono dan Ki Hajar Dewantara.
Rapat umum padaa malam hari tanggal 28 Oktober akan dimulai  pada pukul 19.30. Namun sejak pukul 19.30 komplek gedung Langen Siswa telah dipadati pengunjung.Pelataran Gedung Langen Siswa dipenuhi puluhan orang pandu.Sebagian besar adalah para pandu KBI.
Tepat pada pukul19.30, Sugondo Joyopuspito membuka persidangan.Kesembilan orang anggota panitia kongres duduk berdampingan di ujung aula.Sugondo Joyopuspito duduk di tengah rekan-rekannya. Sugondo Joyopuspito mempersilahkan T. Ramelan untuk menguraikan tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh pandu  Indonesia. Tujuannya ialah mencapai keluhuran budi,membina watak satria, berbakti kepada orang tua, masyarakat, serta berbakti kepada nusa dan bangsa.
Pada tahun 1926, naskah rumusan putusan Kongres Pemuda Indonesia yang pertama oleh Muhammad Yamin disebut IKRAR PEMUDA itu, berbunyi sebagai berikut (tertulis dengan ejaan lama. J = y, dj = j, oe = u) :
Pertama : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE  BERTOMPAH DARAH YANG SATOE, TANAH iNDONESIA
Kedoea : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENDJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA MALAJOE
Kalimat baris ketiga naskah rumusan putusan Kongres Pemuda Indonesia yang pertama itu, diubah sedikit oleh Muhammad Yamin.Pengubahan itu, sesuai dengan usul ketua Panitia Kongres Pemuda Indonesia yang Pertama, M. Tabrani, pada tanggal 2 Mei 1926.Yaitu, mengubah BAHASA MALAJOE menjadi BAHASA INDONESIA.
Poetoesan Congres Pemoeda-Pemoeda Indonesia
            Kerapatan pemoeda-pemoeda Indonesia diadakan oleh perkoempoelan-perkoempoelan pemoeda Indonesia jang berdasarkan kebangsaan dengan namanya Jong Java, Jong Sumatra (Pemoeda Sumatra), Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Islamieten Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi dan Perhimpunan Peladjar-Peladjar Indonesia.
            Sesoedahnja mendengar pidato-pidato pembitjaraan jang diadakan didalam kerapatan tadi;
            Sesodahnja menimbang segala isi-isi pidato-pidato dan pembitjaraan ini,

            Kerapatan laloe mengambil kepoetoesan:
Pertama :KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOMPAH DARAH YANG SATOE, TANAH iNDONESIA
Kedoea :KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga: KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENDJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
            Setelah mendengar poetoesan ini, kerapatan mengeloearkan kejakinan azas ini wajib dipakai oleh segala perkoempoelan kebangsaan Indonesia.
            Mengeloearkan kejakinan persatoean Indonesia diperkoeat dengan memperhatikan dasar persatoeannja:
KEMAOEAN
SEDJARAH
BAHASA
KOEKOEM ADAT
PENDIDIKAN DAN KEPANDOEAN
Dan mengeloerkan penghargaan, soepaja poetoesan ini disiarkan dalam segala soerat kabar dan dibajatkan dimoeka rapat perkoempoelan-perkoempoelan.
            Sebagian peserta kongres serempak berseru, “Setuju!” sebagian lagi berseru, “Akur!”
            Mendengar persetujuan segenap peserta kongres itu, Sugondo Joyopuspito sambil tersenyum lebar mantap mengetukkan palu pimpinan siding. Berarti, POETOESAN CONGRES PEMOEDA-PEMOEDA INDONESIA telah disahkan.
            Waktu telah menunjukkan menjelang tengah malam ketika Ketua Panitia Kongres mengetukkan palu pimpinan siding. Tanda bahwa Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2 resmi ditutup.
            Soegoondo Joyopuspito berdiri, dan dengan perasaan terharu menyalami rekan-rekannya satu demi satu.Terharu sebab Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2 telah berakhir dengan selamat.Lebih dari itu, Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2 berhasil mencapai sasarannya yaitu meletakkan dasar persatuan nasional.
            Hal itu tercermin dalam ketiga baris kalimat POETOESAN CONGRES PEMOEDA-PEMOEDA INDONESIA:
Pertama         : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOMPAH DARAH YANG SATOE, TANAH iNDONESIA
Kedoea          : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga             : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENDJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Ketiga baris kalimat POETOESAN CONGRES PEMOEDA-PEMOEDA INDONESIA ini dalam sejarah Indonesia lebih dikenal sebagai SUMPAH PEMUDA.

1 komentar:

  1. mohon penjelasan siapakah yang dimaksud dengan Ahmad Mangkudilaga dan Iming Sastradinata dan kalau ada dokumentasi untuk mereka berdua

    BalasHapus